TUGAS
BAHASA
INDONESIA KEILMUAN
“Pengelolaan Kewirausahaan Menurut Ajaran
Agama Islam”
Oleh :
Andi Anto S
NPM : 120404010012

PROGRAM STUDI MENEJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
APRIL 2013
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Terjadinya kegagalan pada model pembangunan
pada masa lalu, menyadarkan akan perlunya reorientasi baru dalam pembangunan,
yaitu pendekatan pembangunan yang memperhatikan lingkungan dan pembangunan yang
berwajah manusiawi. Pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai factor
kunci yang memainkan peran penting dalam segala segi. Proses pembangunan
hendaknya sebagai suatu proses yang populis, konsentrasi pembangunan lebih pada
ekonomi kerakyatan, dengan mengedepankan fasilitas pembangunan pada usaha rakyat
kecil.
Bertolak dari model pembangunan yang Humanize
tersebut maka dibutuhkan program-program pembangunan yang memberikan prioritas
pada upaya memberdayakan masyarakat. Dalam konteks Good Governance ada
tiga pilar yang harus menopang jalannya proses pembangunan, yaitu masyarakat
sipil, pemerintah dan swasta. Oleh karena itu SDM/ masyarakat menjadi pilar
utama yang harus diberdayakan sejak awal.
Dalam pembangunan perekonomian rakyat untuk
memberdayakan rakyat hendaklah disertai transformasi secara seimbang, baik itu
transformasi ekonomi, social, budaya maupun politik. Sehingga akan terjadi
keseimbangan antara kekuatan ekonomi, budaya, social dan budaya.
Dengan adanya pemberdayaan, masyarakat dapat
menjalankan pembangunan dengan diberikan hak untuk mengelola sumber daya yang
ada. Masyarakat miskin diberikan kesempatan untuk merencanakan dan melaksanakan
pogram pembangunan yang telah mereka tentukan. Dengan demikian masyarakat
diberi kekuasaan untuk mengelola dana sendiri, baik yang berasal dai pemerintah
maupun pihak lain.
Menurut Winarni dalam Sulistiyani (2004:79),
inti dari pemberdayaan ada tiga hal, yaitu pengembangan (enabling),
memperkuat potensi atau daya (empowering), dan terciptanya kemandirian. Pada
hakikatnya pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang
memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Setiap masyarakat pasti
memiliki daya, akan tetapi masyarakat tidak menyadari, atau bahkan belum
diketahui. Oleh karena itu, daya harus digali, dan kemudian dikembangkan.
Pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship)
di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh
dunia pendidikan, masyarakat, maupun pemerintah. Banyak praktisi pendidikan
yang kurang memperhatikan aspek-aspek penumbuhan mental, sikap, dan prilaku
kewirausahaan peserta didik, baik di sekolah kejuruan maupun professional
sekalipun. Orientasi mereka, pada umumnya, hanya pada upaya-upaya menyiapkan
tenaga kerja yang siap pakai. Sementara itu, dalam masyarakat sendiri telah
berkembang lama kultur feodal (priyayi) yang diwariskan oleh penjajahan
Belanda. Sebagian besar anggota masyarakat memiliki persepsi dan harapan bahwa output
dari lembaga pendidikan dapat menjadi pekerja (karyawan, administrator atau
pegawai) oleh karena dalam pandangan mereka bahwa pekerja (terutama pegawai
negeri) adalah priyayi yang memiliki status sosial cukup tinggi dan disegani
oleh masyarakat.
Akan tetapi, melihat kondisi objektif yang
ada, persepsi dan orientasi di atas musti diubah karena sudah tidak lagi sesuai
dengan perubahan maupun tuntutan kehidupan yang berkembang sedemikian
kompetitif. Pola berpikir dan orientasi hidup kepada pengembangan kewirausahaan
merupakan suatu yang mutlak untuk mulai dibangun, paling tidak dengan melihat
realitas sebagai berikut:
1. Senantiasa terjadi ketidakseimbangan antara
pertambahan jumlah angkatan kerja setiap tahun jika dibandingkan dengan
ketersediaan lapangan kerja yang ada. Tentu saja kondisi seperti ini akan
mengakibatkan persaingan yang semakin ketat dalam upaya mendapatkan pekerjaan.
Sementara hidup ini tetap harus berjalan dan penghasilan tetap harus dicari
untuk menutup berbagai kebutuhan hidup yang kian mahal.
2. Yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di
era global ini adalah manusia mandiri (independent) yang memiliki
keunggulan kompetitif maupun komparatif, mampu membangun kemitraan sehingga
tidak menggantungkan pada orang lain. Menurut Samuel Hutington, di sini hukum
insani berlaku, bahwa yang mampu bertahan adalah mereka yang berkualitas (bukan
yang kuat).
3. Posisi pekerja, karyawan, dan pegawai (pada
umumnya di negara berkembang) sering berada pada posisi yang lemah dan
ditempatkan sebagai alat produksi (subordinasi) sehingga tidak memiliki daya
tawar yang seimbang. Bekerja sebagai karyawan/pegawai dapat mencerminkan jiwa
pemalas. Sebaliknya, ia malah tidak dapat mengembangkan ide dan visi selama ia
bekerja untuk orang lain.
Berdasarkan asumsi tersebut maka pemberdayaan
adalah upaya untuk membangun daya, dengan cara mendorong, memotivasi, dan
membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk
mengembangkannya dengan dilandasi proses kemandirian.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka
masalah-masalah yang akan di bahas dalam makalah ini, yaitu:
1. Apakah yang di maksud dengan pengelolaan dan
kewirausahaan?
2. Bagaimanakah ciri dan watak dalam
kewirausahaan?
3. Bagaimanakah tahap-tahap dan proese dalam
kewirausahaan?
4. Bagaimanakah faktor-faktor motivasi dalam
berwirausaha?
5. Bagaimakah kegiatan kewirausahaan menurut
pandangan Islam?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang tersebut di
atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1.
Untuk menjelaskan pengertian pengelolaan dan kewirausahaan.
2.
Untuk mengidentifikasikan ciri dan watak dalam kewirausahaan.
3.
Untuk menjelaskan dan mengidentifikasikan tahap-tahap dan proses dalam
berwirausaha.
4.
Untuk mengidentifikasikan faktor-faktor motivasi dalam berwirausaha.
5.
Untuk menjelaskan dan mengidentifikasi kegiatan kewirausahaan menurut
pandangan Islam.
D. Manfaat Penulisan
1.
Bagi Pribadi
Meningkatkan
pengetahuan dan wawasan akan ciri dan watak berwirausaha. Selain itu juga,
wawasan akan berwirausaha menurut pandangan Islam semakin jelas dan dapat
meningkatkan motivasi dalam berwirausaha.
2.
Bagi Masyarakat Pembaca
a)
Meningkatkan pengetahuan dan wawasan akan kewirausahaan beserta
proses-prosesnya.
b)
Menumbuhkan dan meningkatkan motivasi untuk mulai dan terus
berwirausaha.
c)
Meningkatkan pengetahuan akan kewirausahaan menurut pnadangan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengelolaan dan Kewirausahaan
1.
Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan = manajemen (D. Sudjana)
Ø Manajemen adalah suatu proses yang khusus
yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran
yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya (G.R. Terry).
Ø Manajemen merupakan serangkaian kegiatan
merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan dan mengembangkan
terhadap segala upaya dalam mengatur dan mendayagunakan sumberdaya manusia,
sarana dan prasarana secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.(Stoner, 1981)
Ø Proses yang sistematis, terkoordinasi,
koperatif dan terintegrasi.
Ø Mempunyai tujuan.
Ø Memanfaatkan dan Mendayagunakan
sumber-sumber.
Ø Menerapkan fungsi-fungsi manajemen
(merencanakan, mengorganisir, menggerakkan mengarahkan, dan mengendalikan).
2.
Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan
pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti
mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan
perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan
bukan tujuan utama. Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur)
adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam
berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri
dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam
kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).
Pengertian
kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik
berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah
penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan)
yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973),
menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama
faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
·
Richard Cantillon (1775)
Kewirausahaan
didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan
membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan
datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada
bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
·
Jean Baptista Say (1816)
Seorang
wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan
menemukan nilai dari produksinya.
·
Frank Knight (1921)
Wirausahawan
mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini
menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada
dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan
fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan
·
Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan
adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam
pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam
bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2)
memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market),
(4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5)
menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan
wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta
mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
·
Penrose (1963)
Kegiatan
kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi.
Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
·
Harvey Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan
mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan
perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi
dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
·
Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan
mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.
·
Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio
Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan
membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif,
peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari
proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko
atau ketidakpastian.
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari
berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai
fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar.
Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau
kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan
menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan
tindakan yang kreatif dan innovatif.
Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai
sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih
besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan
cara-cara baru.
Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan
peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang
sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu
mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi,
tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi
kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah
proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan
waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang
menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.
B. Ciri
dan Watak dalam Kewirausahaan
1.
Ciri-ciri Kewirausahaan
·
Percaya diri.
·
Berorientasi pada tugas dan hasil.
·
Pengambilan resiko.
·
Kepemimpinan.
·
Keorisinilan.
·
Berorientasi ke masa depan.
2.
Watak Kewirausahaan
·
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis, dan optimisme.
·
Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan,
tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
·
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
·
Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi
saran-saran dan kritik
·
Inovatif dan kreatif serta fleksibel.
·
Pandanga ke depan, perspektif.
(Sumber : dari Meredith, et.a., dalam
Suryana, 2001 : 8)
Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur
membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk baru arau
ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa. Karakteristik tipikal entrepreneur
(Schermerhorn Jr, 1999) :
1. Lokus pengendalian internal
2. Tingkat energi tinggi
3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
4. Toleransi terhadap ambiguitas
C. Tahap-tahap dan Proses dalam Kewirausahaan
1.
Tahap-tahap Kewirausahaan
a) Kepercayaan diri
b) Berorientasi pada action.
Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:
1) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang
berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan,
diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha
baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha
yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur /
produksi atau jasa.
2) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas
dengan tahap “jalan”, tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek
yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM,
kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko
dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
3) Mempertahankan usaha, tahap di mana
wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis
perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang
dihadapi.
4) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil
yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan
maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
2.
Proses Kewirausahaan
Menurut
Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali
dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik
yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan,
sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut
membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan
pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara
internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu,
seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman.
Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya
model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan
menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi
dan keluarga (Suryana, 2001 : 34). Secara ringkas, model proses kewirausahaan
mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :
a)
proses inovasi
b)
proses pemicu
c)
proses pelaksanaan
d) proses pertumbuhan
Berdasarkan analisis pustaka terkait
kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
melakukan wirausaha adalah :
a) mencari peluang usaha baru : lama usaha
dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan,
b) pembiayaan : pendanaan – jumlah dan
sumber-sumber dana,
c) SDM : tenaga kerja yang dipergunakan,
d) kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan
usaha,
e) organisasi : pembagian kerja diantara tenaga
kerja yang dimiliki,
f) kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan
jangka panjang, proses manajerial (POAC),
g) Pemasaran : lokasi dan tempat usaha.
D. Faktor-faktor Motivasi Dalam Berwirausaha
Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir, 27
– 28) :
1. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini
berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat
diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
2. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan
ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi
terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai
kegiatan.
3. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang
sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu
produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian
utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi
dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
4. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan
sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam
bentuk uang maupun waktu.
5. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak
terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang
seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu
memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja
kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak
dapat diselesaikan.
6. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas
yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab
seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada
berbagai pihak.
7. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri
yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu
memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
8. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik
dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang
dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain
kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Dari analisis pengalaman di lapangan,
ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat dirangkum dalam tiga
sikap, yaitu :
- Jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan.
- Mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat melakukan kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum dapat diperoleh.
- Selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan !” dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.
Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan
seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke
arah kesuksesan. Dan & Bradstreet business Credit Service (1993 : 1)
mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :
- Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
- Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.
- Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
- Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
- Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
- Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
- Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
- Statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.
- Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
- Copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139)
Delapan anak tangga menuju puncak karir
berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas :
- Mau kerja keras (capacity for hard work).
- Bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people).
- Penampilan yang baik (good appearance).
- Yakin (self confidence).
- Pandai membuat keputusan (making sound decision).
- Mau menambah ilmu pengetahuan (college education).
- Ambisi untuk maju (ambition drive).
- Pandai berkomunikasi (ability to communicate).
E. Kegiatan Kewirausahaan Menurut Pandangan
Islam
Islam memang tidak memberikan penjelasan
secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan (entrepreneurship)
ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat; memiliki ruh
atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.
Dalam Islam digunakan istilah kerja keras,
kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat
beberapa ayat al-Qur’an maupun Hadis yang dapat menjadi rujukan pesan tentang
semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti; “Amal yang paling baik
adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, ‘amalurrajuli
biyadihi (HR.Abu Dawud)” ;
“Tangan di atas lebih baik dari tangan di
bawah”; “al yad al ‘ulya khairun min al yad al sufla”( HR.Bukhari dan
Muslim)(dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk
kerja keras supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada
orang lain), atuzzakah. (Q.S. Nisa : 77)
“Manusia harus membayar zakat (Allah
mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan dapat menjalankan
kewajiban membayar zakat)”.
Dalam sebuah ayat Allah mengatakan,
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan
kamu”(Q.S. at-Taubah : 105). Oleh karena itu, apabila shalat telah
ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki)
Allah. (Q.S. al-Jumu’ah : 10)
Bahkan sabda Nabi, “Sesungguhnya bekerja
mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardlu” (HR.Tabrani
dan Baihaqi).
Nash ini jelas memberikan isyarat agar manusia
bekerja keras dan hidup mandiri.
Bekerja keras merupakan esensi dari
kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut Wafiduddin, adalah suatu langkah
nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi harus melalui
proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain, orang
yang berani melewati resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar. Kata
rizki memiliki makna bersayap, rezeki sekaligus reziko (baca; resiko).
Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan
sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepre mancanegara
yang pawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Oleh
karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental entrepreneurship
inheren dengan jiwa umat Islam itu sendiri. Bukanlah Islam adalah agama
kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke -13 M,
oleh para pedagang muslim.
Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan,
Nabi dan sebagian besar sahabat telah meubah pandangan dunia bahwa kemuliaan
seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada jabatan yang
tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.
Oleh karena itu, Nabi juga bersabda “Innallaha
yuhibbul muhtarif” (sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang bekerja
untuk mendapatkan penghasilan). Umar Ibnu Khattab mengatakan sebaliknya bahwa,
“Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau bekerja yang menyangkut
urusan dunia.
Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan
oleh para pedagang. Di samping menyebarkan ilmu agama, para pedagang ini
juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada masyarakat pesisir. Di
wilayah Pantura, misalnya, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis
keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah
yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal jigang
(ngaji dan dagang).
Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal
yang juga sebagai pengusaha tangguh, Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan
Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji Syamsuddin, Niti
Semito, dan Rahman Tamin.
Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat
menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah
tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua sisi dari satu
keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi, “Hendaklah kamu
berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR. Ahmad).
Adapun Motif Berwirausaha Dalam Bidang
Perdagangan menurut ajaran agama Islam, yaitu:
1.
Berdagang buat Cari Untung?
Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari
pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertujuan untuk mencari laba sehingga
seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Padahal ini
sangat dilarang dalam agama Islam. Seperti diungkapkan dalam hadis : “ Allah
mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu
menagih piutang.”
Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai
suatu pekerjaan yang rendahan karena biasanya berdagang dilakukan dengan penuh
trik, penipuan, ketidakjujuran, dll.
2.
Berdagang adalah Hobi
Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut
oleh para pedagang dari Cina. Mereka menekuni kegiatan berdagang ini dengan
sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai macam terobosan.Yaitu dengan open
display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik minat orang),
window display (melakukan pajangan di depan toko), interior display
(pajangan yang disusun didalam toko), dan close display (pajangan khusus
barang-barang berharga agar tidak dicuri oleh orang yang jahat).
3.
Berdagang Adalah Ibadah
Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk
Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun yang kita lakukan harus memiliki niat
untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan niat ini akan
mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para pedagang dapat mengambil barang
dari tempat grosir dan menjual ditempatnya. Dengan demikian masyarakat yang ada
disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama. Sehingga nantinya
akan terbentuk patronage buying motive yaitu suatu motif berbelanja
ketoko tertentu saja.
Berwirausaha memberi peluang kepada orang
lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan pelayanan yang cepat, membantu
kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan, dll. Perbuatan baik
akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu kesehatan
jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Brain yang menyatakan
bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi untuk mengembaliakn
kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh
frekwensi perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah
bergaul, bermuamalah, bekerja sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi
dengan orang lain.
4. Perintah Kerja Keras
Kemauan yang keras dapat menggerakkan
motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Orang akan berhasil apabila mau
bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk memperbaiki nasibnya.
Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karir seseorang, maka
harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti dengan mencapai tujuan
dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan,
pendidikan, dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah memerintahkan kita
untuk tawakkal dan bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya
adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang akan menumbuhkan kreativitas untuk
perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk tetap berdoa dan memohon
perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun kita berusaha karena Dialah yang
menentukan akhir dari setiap usaha.
5. Perdagangan/ Berwirausaha Pekerjaan Mulia
Dalam Islam
Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat
terhormat dalam ajaran Islam, seperti disabdakan Rasul :
“ Mata pencarian apakah yang paling baik,
Ya Rasulullah?”Jawab beliau: Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya
sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR. Al-Bazzar).
Dalam QS.Al-Baqarah:275 dijelaskan bahwa
Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual beli dan mengharamkan riba. Kegiatan
riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan perdagangan tidak berkembang.
Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar pada satu pihak saja
yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup.
Perilaku Terpuji dalam Perdagangan/
Berwirausaha
Menurut Imam Ghazali, ada 6 sifat perilaku
yang terpuji dalam perdagangan, yaitu :
1. Tidak mengambil laba lebih banyak.
Membayar harga yang sedikit lebih mahal
kepada pedagang yang miskin. Memurahkan harga dan memberi potongan kepada
pembeli yang miskin sehingga akan melipatgandakan pahala. Bila membayar hutang,
maka bayarlah lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan. Membatalkan jual
beli bila pihak pembeli menginginkannya. Bila menjual bahan pangan kepada orang
miskin secara cicilan, maka jangan ditagih apabila orang tersebut tidak mampu
membayarnya dan membebaskan ia dari hutang apabila meninggal dunia.
2. Manajemen Utang Piutang
Hutang ini sudah melekat pada kehidupan
masyarakat kita. Dosa hutang tidak akan hilang apabila tidak dibayarkan. Bahkan
orang yang mati syahidpun dosa utangnya tidak berampun. Jadi jika seseorang
meninggal, maka ahli warisnya wajib melunasi hutang tersebut. Tapi jika orang
tersebut telah berusaha membayarnya, tetapi memang betul-betul tidak mampu, dan
ia kemudian meninggal dunia, maka Rasul saw menjadi penjaminnya. Seperti dalam
hadis berikut :
“ Barang siapa dari umatku yang punya hutang,
kemudian ia berusaha keras untuk membayarnya, lalu ia meninggal dunia sebelum
lunas hutangnya, maka aku sebagai walinya.” (HR. Ahmad).
3. Demonstration Effect Menyebabkan Faktor Modal
Menjadi Beku
Demonstration Effect atau pamer kekayaan akan
dapat mengundang kecemburuan social, orang lain menjadi iri, mengundang
pencuri/perampok, membuat modal masyarakat menjadi beku dan membuat masyarakat
tidak produktif. Nabi saw menganjurkan agar kita menggunakan uang untuk
kepentingan yang di ridhoi Allah, terutama untuk tujuan pengembangan
produktivitas yang digunakan untuk kepentingan umat. Dalam sebuah hadist
disebutkan :
“ Barang siapa mengurus anak yatim yang
mempunyai harta, maka hendaklah ia memperdagangkan harta ini untuknya, jangan
biarkan harta itu habis termakan sedekah (zakat).” (HR. At-Tarmidzi dan
Ad-Daruquthni).
Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa
apabila kita memiliki modal, maka janganlah disimpan begitu saja, tetapi harus
digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan.
4. Membina Tenaga Kerja Bawahan
Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus
dilandasi oleh rasa kasih sayang, saling membutuhkan, dan tolong menolong. Hal
ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang pekerjaan. Pengusaha menyadiakan
lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah dari pengusaha. Pekerja
menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha untuk
menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan. Majikan mempunyai hak untuk
memerintah bawahan dan mendapat keuntungan. Majikan juga mnemiliki
kewajiban yaitu membayar upah karyawan sesegera mungkin dan melindungi
karyawannya. Seperi dalam hadist berikut :
“ Berikanlah kepada karyawanmu upahnya
sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)
Sebagai majikan kita juga harus menyayangi
dan memperlakukan bawahan dengan baik karena itu bertentangan dengan ajaran
islam.
Sifat-Sifat Seorang Wirausaha
Sifat yang harus dimiliki oleh seorang
wirausaha yang sesuai dengan ajaran agama Islam adalah :
- Sifat Takwa, Tawakkal, Zikir, dan Syukur
Sifat ini harus dimiliki oleh wirausahawan karena
dengan sifat-sifat itu kita akan diberi kemudahan dalam menjalankan setiap
usaha yang kita lakukan. Dengan adanya sifat takwa maka kita akan diberi jalan
keluar penyelesaian dari suatu masalah dan mendapat rizki yang tidak disangka.
Dengan sikap tawakkal, kita akan mengalami kemudahan dalam menjalankan usaha
walaupun usaha yang kita jalani memiliki banyak saingan. Dengan bertakwa dan
bertawakkal maka kita akan senantiasa berzikir untuk mengingat Allah dan
bersyukur sebagai ungkapan terima kasih atas segala kemudahan yang kita terima.
Dengan begitu, maka kita akan merasakan tenang dan melaksanakan segala usaha
dengan kepala dingin dan tidak stress.
- Jujur
Dalam suatu hadist diriwayatkan bahwa :”Kejujuran
akan membawa ketenangan dan ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.”(HR.
Tirmidzi). Jujur dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan orang lain
maka akan membuat tenang lahir dan batin.
3. Niat Suci dan Ibadah
Bagi seorang muslim kegiatan bisnis
senantiasa diniatkan untuk beribadah kepada Allah sehingga hasil yang didapat
nanti juga akan digunakan untuk kepentingan dijalan Allah.
4. Azzam dan bangun Lebih Pagi
Rasul saw mengajarkan agar kita berusaha
mencari rezeki mulai pagi hari setelah shalat subuh. Dalam sebuah hadist
disebutkan bahwa :” Hai anakku, bangunlah!sambutlah rizki dari Rabb-mu dan
janganlah kamu tergolong orang yang lalai, karena sesungguhnya Allah membagikan
rizki manusia antara terbitnya fajar sampai menjelang terbitnya matahari.”(HR.
Baihaqi)
5. Toleransi
Sikap toleransi diperlukan dalam bisnis
sehingga kita dapat menjadi pribadi bisnis yang mudah bergaul, supel,
fleksibel, toleransi terhadap langganan dan tidak kaku.
6. Berzakat dan Berinfak
“ Tidaklah harta itu akan berkurang karena
disedekahkan dan Allah tidak akan akan menambahkan orang yang suka memberi maaf
kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang yang suka merendahkan diri karena Allah
melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”(HR. Muslim). Dalam hadist tersebut telah diungkapkan
bahwa dengan berzakat dan berinfak maka kita tidak akan miskin, melainkan Allah
akan melipat gandakan rizki kita. Dengan berzakat, hal itu juga akan
membersihkan harta kita sehingga harta yang kita peroleh memang benar-benar
harta yang halal.
7. Silaturahmi
Dalam usaha, adanya seorang partner sangat
dibutuhkan demi lancarnya usaha yang kita lakukan. Silaturrahmi ini dapat
mempererat ikatan kekeluargaan dan memberikan peluang-peluang bisnis baru.
Pentingnya silaturahmi ini juga dapat dilihat dari hadist berikut :”Siapa
yang ingin murah rizkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat
hubungan silaturahmi.”(HR. Bukhari)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa
simpulan sebagai berikut.
- Dengan melihat realita secara jujur dan objektif, maka orang sadar bahwa menumbuhkan mental wirausaha merupakan terobosan yang penting dan tidak dapat ditunda-tunda lagi. Kita semua harus berpikir untuk melihat dan melangkah ke arah sana.
- Dalam Islam, baik dari segi konsep maupun praktik, aktivitas kewirausahaan bukanlah hal yang asing, justru inilah yang sering dipraktikkan oleh Nabi, istrinya, para sahabat, dan juga para ulama di tanah air. Islam bukan hanya bicara tentang entrepreneurship (meskipun dengan istilah kerja mandiri dan kerja keras), tetapi langsung mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
- Lembaga
pendidikan melalui para praktisinya harus lebih konkret dalam menyiapkan
program kegiatan pembelajaran yang benar-benar dapat mendorong tumbuh dan
berkembangnya spirit kewirausahaan mulai dari sekolah dasar sampai
perguruan tinggi.
\
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar