Kelapa Sawit dan Kesejahteraan Petani
Di
Pedesaan Daerah Jambi
Pengembangan perkebunan
di pedesaan telah membuka peluang kerja bagi masyarakat yang mampu untuk
menerima peluang tersebut. Dengan adanya perusahaan perkebunan, mata
pencaharian masyarakat tempatan tidak lagi terbatas pada sektor primer dalam
memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi telah memperluas ruang gerak usahanya
pada sektor tertier. Bermacam sumber pendapatan yang memberikan andil yaitu
pedagang (dagang barang-barang harian, dagang karet, tiket angkutan dan penjual
es), pegawai (guru, pemerintahan desa), industri rumah tangga (industri tahu,
roti, dan percetakan genteng), buruh kasar, nelayan, pencari kayu di hutan dan
tukang kayu.
Indek pertumbuhan
kesejahteraan (IPK) petani kelapa sawit di Jambi pada tahun 1995 hanya sebesar
49 yang berarti tingkat pertumbuhan kesejahteraan hanya meningkat sebesar 49
persen. Pada awal krisis tahun 1998 terjadi penurunan indeks kesejahteraan
sebesar 109 %. Penurunan ini disebabkan kondisi ekonomi nasional pada waktu itu
tidak menguntungkan, harga barang melonjak naik, nilai tukar rupiah terhadap
dollar Amerika menurun. Namun untuk tingkat golongan 80 persen berpendapatan
rendah mengalami peningkatan. Yang paling besar adalah golongan 20 % terendah.
Ini disebabkan karena ketergantungan mereka terhadap produk luar (barang sektor
modern sangat rendah). Mereka lebih banyak memakai barang sektor tradisional
atau produksi lokal.
Setelah ekonomi pulih
kembali pada tahun 2003 indeks pertumbuhan kesejahteraan petani kelapa sawit
meningkat lagi menjadi 1,72. Berarti pertumbuhan kesejahteraan petani kelapa
sawit mengalami kemajuan sebesar 172 persen. Pertumbuhan ini hanya dinikmati
oleh kelompok petani yang berpenghasilan 40 persen tertinggi sebesar 328
persen, sedangkan kelompok petani 60 persen terendah justru mengalami penurunan
kesejahteraan sebesar 156 persen.
Pembangunan dan
perkembangan komoditas kelapa sawit di daerah Jambi semakin dirasakan oleh
petani, khususnya di daerah pedesaan. Ini dibuktikan dengan meningkatny IPK
petani kelapa sawit sebesar 68, yang berarti kesejahteraan petani kelapa sawit
di pedesaan meningkat sebesar 68% dari sebelumnya. Tentu saja peningkattan
kesejahteraan ini bukan saja dirasakan oleh petani kelapa sawit, namun juga
berpengaruh tehadap multiplier effect ekonomi di pedesaan.
Aktivitas pembangunan
perkebunan kelapa sawit memberikan pengaruh eksternal yang bersifat positif
atau bermanfaat bagi wilayah sekitarnya. Manfaat kegiatan perkebunan ini
terhadap aspek ekonomi pedesaan, antara lain: 1) Memperluas lapangan kerja dan
kesempatan berusaha; 2) Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar; dan 3)
Memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Beberapa kegiatan yang
secara langsung memberikan dampak terhadap komponen ekonomi pedesaan dan budaya
masyarakat sekitar, antara lain: 1) Kegiatan pembangunan sumberdaya masyarakat
desa; 2) Pembangunan sarana prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat, terutama sarana jalan darat; 3) Penyerapan tenaga kerja lokal; 4)
Penyuluhan pertanian, kesehatan dan pendidikan; dan 5) Pembayaran kewajiban
perusahaan terhadap negara (pajak-pajak dan biaya kompensasi lain).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar